Sudah pernah melakukan kesalahan besar?
Pernahkah bergetar begitu hebat seperti disambar petir?
Pernah merasa bodoh didepan 400 orang yang memandang sinis?
Pernah mejadi pusat perhatian sebanyak itu?
Menjadi pusat kesalahan?
Pernah?
“Aku sangat pernah”
Rasanya memori itu pengen aku bakar habis dari otak aku.
Rasanya aku kehilangan pegangan
Rasanya gravitasi bumi udah ga berpihak lagi sama aku
Ngejelimet.
Aku pengen menghilang hari itu, ga mau kenal ataupun ketemu sama siapapun
Muka aku merah, semerah merahnya.
Itu kesalahan terbesar yang pernah aku buat seumur hidup aku… keteledoran, kebodohan, kelalaian, atau mungkin TEGURAN.
9 januari 2012.
Pagi itu aku ngelakuin rutinitas biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan, berangkat kuliah, dan kuliah. Seperti biasa.
Sampai tiba pada saatnya kuliah dengan dokter paru, kuliah nya pun all, satu angkatan berkumpul disana. Dokter ini sangat kami hormati, karena beliau lah yang menjadi penanggung jawab blok yang kami jalani saat ini.
Kuliah berjalan sangat hening. Sampai tiba pada saatnya kebodohan aku itu menghancurkan segalanya. You know what? My phone was ringing out loud…
Padahal aturan main sang dosen sudah jelas. “jika saya mendengar bunyi handphone,apapun itu, maka perkuliahan dihentikan”. Jgeeeeerrrrrrrr..
Semua mata tertuju Cuma pada satu titik kekacauan. Aku. Para senat udah tepok jidatnya semua. Aku dengan gupek dan bodohnya berharap sang dosen ga denger. Atau aku sempet lempar hp aku, pikiran aku kacau waktu itu. Semua hening.. hening.. persis kuburan. Tangan aku gemeter. Padahal itu Cuma alarm bodoh yang aku buat . bukan telepon.
Sang dosen pun berhenti menjelaskan materi, dan berkata “ok, kuliah sampai disini”. Jgeeerrrrrrrrr.. sambaran petir lagi.
Ini kali kedua ada hp bunyi di kelas. Makanya ga ada dispensasi lagi. Aku ga bisa mikir dengan akal sehat lagi waktu itu, yang aku pikirin gimana caranya biar itu dosen balik ngajar didepan. Beliau dosen yang sangat berpengaruh.
Aku lari kedepan, aku mohon2 dan minta maaf.tapi beliau ga berkutik. Aku kejar dia sampe keluar, di bantu senat. Aku minta maaf, beliau ttep ga mau balik. Beliau Cuma bilang “biar belajar”.
Ya.. sangat jadi pembelajaran besar buat aku.
Sangat jadi beban buat aku.
Dengan lunglai aku balik ke kelas, disaksikan 400 orang lebih memandang aku dengan pikiran mereka masing2,yang mungkin kebanyakan keki berat sama aku.
Aku duduk.diam.kehilangan pegangan.
Sampai satu tangan sahabat aku menggenggam tangan aku.
“kan, udah. Bukan salah kamu”.
Aku ga nangis. Tapi tangan aku gemeter hebat, aku pegang tangan temen aku itu seerat-eratnya. Ya.. aku butuh pegangan.
Kata2 itu mungkin kedengeran tidak rasional, karena aku sendiri tahu kalau itu salah aku. Tapi itu menenangkan.
Satu persatu sahabat2ku itu datang, mengusap, menenangkan, menghibur, banyak sekali yang datang memberi motivasi, walaupun aku tahu aku gap antes dapetin itu semua. Karena harusnya aku yang minta maaf sama semua orang disitu.
“kania, bukan salah kamu sepenuhnya kok”
“kan, aku salut sama kamu, kamu cewek, berani tadi ngehadepin dosen itu ke depan sendirian, aku aja cowok belum tentu berani bertindak kayak gitu. Kamu kuat kan, semangat!”
“kan, ga apa2 kok, kan masih ada kuliah yang lain, jadi pelajaran aja”
Masih banyak lagi kata2 yang gue tangkep dan sedikitnya menghibur hati.
Disaat seperti itu.. aku masih bisa memikirkan hal lain. Sadar akan hal itu.
Ya.. aku punya teman.
Aku punya banyak teman yang masih simpati diantar 400 .
Mereka menguatkanku. Walau aku yang salah pada hari itu.
Mereka masih memberikan semangat2 yang gap antes aku dapatkan.
Rasanya pengen ngubur muka ini. Ga tau kapan akan berakhir rasa bersalah seperti ini.
Tapi.. terimakasih atas dukungan kalian,
Maafkan aku teman2.. dari hati yang terdalam..
Maafkan aku angkatan 2010.. maafkan temanmu ini.